Asal-usul "Urung-urung Mangge" - Sejarah Desa Gegeran Ponorogo


    Setiap Desa atau daerah memiliki sejarah dan latar belakang tersendiri yang merupakan pencerminan dari karakter dan ciri khas tertentu dari suatu daerah. Sejarah desa atau daerah sering kali tertuang dalam dongeng-dongeng yang diwariskan secara turun temurun, dari mulut ke mulut hingga sulit dibuktikan secara fakta dan tidak jarang dongeng tersebut dihubungkan dengan  mitos tempat tertentu yang dianggap keramat.

    Desa Gegeran juga memiliki cerita tentang sejarah berdirinya Desa, cerita tersebut kita tulis dalam sebuah narasi sebagai berikut:

    Dahulu ada wilayah yang bernama Widodaren yang dipimpin oleh seorang yang bernama Ki Ageng Joko Dolok, dia punya dua saudara laki-laki dan juga punya dua putri yang bernama Sri Kati/Sri Gati dan Sri Katon. Beliau punya abdi kinasih yang bernama Potro Singo.

    Pada suatu ketika Widodaren mengalami kemarau panjang, sehingga sangat kekurangan air. Bersamaan dengan itu Putri Ki Ageng Joko Dolok yang bernama Sri Gati mengalami musibah terkena gatal/ kurap di sekujur tubuhnya. Konon Putri yang sangat cantik itu sangat menderita karena penyakitnya yang tidak kunjung sembuh.

    Ringkas Cerita Ki Ageng Joko Dolok bersemedi di salah satu puntuk/ bukit yang berada di sebelah barat wilayahnya dengan ditemani abdi kinasih Potro Singo, setelah sekian lama bersemedi akhirnya beliau mendapat wangsit/ petunjuk dari Yang Maha Kuasa bahwa wilayahnya Widodaren akan terhindar dari kemarau panjang dan putrinya bisa sembuh bilamana air sungai Galok bisa mengalir sampai Widodaren.

    Karena dalam semedinya Ki Ageng Joko Dolok mendapat wangsit yang dalam bahasa Jawanya “Manggeh Wangsit” maka wilayah Widodaren diganti nama Menjadi Manggeh atau Mangge dan Ki Ageng Joko Dolok juga terkenal dengan sebutan Ki Ageng Mangge. Dan tempat yang digunakan Ki Ageng Joko Dolok Bersemedi dulu berupa gundukan atau gunung kecil lalu dinamakan Gunung Mangge.

    Setelah itu Ki Ageng Mangge mengadakan Sayembara, barang siapa yang dapat mengalirkan sungai galok ke Wilayahnya, kalau laki-laki akan dijodohkan dengan putrinya Sri Gati, dan jika Perempuan akan dijadikan saudaranya Sri Gati. Karena melihat kecantikan Sri Gati, kedua Saudara Ki Ageng Mangge Mengikuti Sayembara tersebut. Mendengar kedua Saudaranya mengikuti sayembara, hati Ki Ageng Mangge diliputi rasa cemas dan Takut.

    Karena disamping punya kesaktian dan kelebihan yang luar biasa, salah satunya yang bernama Ki Ageng Joko Dongos berwajah buruk dan sangat menakutkan. Namun Ki Ageng Mangge tak sanggup mencegah kedua adiknya. Sehingga Ki Ageng Mangge membuat aturan pembuatan saluran dari sungai Galok ke arah Mangge tersebut dengan batas satu malam.
Ki Ageng Joko Dongos menyanggupi perintah Ki Ageng Mangge, pada akhirnya dia membuat terowongan lewat bawah tanahdengan ditemani kedua abdi kinasihnya yang bernama Ki Rajah Beling dan Bancolono.

    Setelah beberapa saat menggali tanah untuk membuat terowongan saluran sungai Galok ke Mangge sudah tepat atau belum, Ki Ageng Joko Dongos naik ke atas untuk melihat dan hal tersebut dilakukan sebanyak tiga kali.

    Pada waktu terowongan ketiga dilihat ke timur ke arah Mangge, Ki Ageng Joko Dongos resah dan bingung karena mendengar suara ayam sudah berkokok bersahut-sahutan dan suara lesung untuk menumbuk padi sudah berbunyi bertalu-talu, sementara dari arah timur nampak sinar terang seakan matahari akan terbit.

    Tetapi sebenarnya hal itu siasat Ki Ageng Mangge untuk menggagalkan Ki Ageng Joko Dongos yang hampir selesai. Sehingga Ki Ageng Mangge menyuruh masyarakat untuk membunyikan lesung dan mengupayakan ayam jago berkokok, sedang Ki Ageng Mangge sendiri membuat perapian yang sebelah baratnya ditutupi dengan pusakanya yang bernama Cinde Puspito, Sehingga dilihat dari kejahuan seakan-akan sinar matahari akan terbit.

    Namun Ki Ageng Joko Dongos tidak putus semangatnya, setelah menata hatinya dan minta petunjuk, ternyata semua itu hanya rekayasa belaka. Lalu Ki Ageng Joko Dongos melanjutkan Pekerjaannya hingga rampung atau istilah jawanya Jebol. Sehingga terbentuklah terowongan, dan tempat tembusnya/ jebolnya terowongan tersebut sekarang terkenal dengan nama Jebolan.

    Bersamaan dengan tembusnya terowongan tersebut terjadilah keanehan, air sungai Galok mendadak banjir, sehingga sampai ke wilayah Mangge. Karena jumlah air yang sangat luar biasa, wilayah Mangge hancur diterjang banjir, yang mengakibatkan rumah-rumah hanyut terbawa air. Dengan berhasilnya Ki Ageng Joko Dongos membuat saluran air, Ki Ageng Mangge bersama keluarganya berusaha lari untuk menghindar dari Ki Ageng Joko Dongos dengan aji-aji panglimunan.

    Sementara Ki Ageng Joko Dongos setelah merasa Pekerjaanya telah selesai berminat menagih janji Ki Ageng Mangge, namun setelah sampai wilayah Mangge dia terkejut melihat tempat tersebut telah hancur dan keluarga Ki Ageng Mangge sudah tidak ada.

    Dengan rasa cemas Ki Ageng Joko Dongos mencari Ki Ageng Mangge dan Keluarganya ke arah timur namun di pertengahan sawah dia menjumpai balai/ rumah Ki Ageng Mangge mengambang di situ. Yang kini tempat itu dikenal dengan sebutan balai kambang, yang sekarang berupa gundukan yang ditumbuhi pepohonan.

    Ki Ageng Joko Dongos terus mencari ke timur dan dia menjumpai kandang Ki Ageng Mangge menyangkut di pohon asem, yang kini tempat tersebut dikenal dengan sebutan Asem Kandang. Ki Ageng Joko Dongos terus mencari, dalam pencarianya tersebut suatu ketika Ki Ageng Joko Dongos mendengar banyak orang Tertawa yang istilah jawanya GARGER-GARGER sehingga tempat tersebut dinamakan GEGERAN yang sekarang menjadi nama Desa GEGERAN.

    Dari narasumber yang lain mengisahkan dalam pencarianya tersebut Ki Ageng Joko Dongos melihat punggung ( yang dalam bahasa jawanya GEGER) Ki Ageng Mangge dan keluarganya. Sehingga tempat tersebut dinamakan GEGERAN.

    Cerita ini berasal dari sesepuh terdahulu yang diceritakan secara turun temurun kepada anak cucunya hingga sekarang. Mengenai kebenaranya hanya Tuhan yang tahu serta para pelaku sejarah pada zaman tersebut.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama